Jumat, 02 Januari 2015

Lagu Anak Indonesia Kini Telah Beranjak Dewasa

Siapa dari kita yang tidak kenal musik? Ya, musik adalah salah satu media hiburan yang paling mudah kita dapatkan. Keanekaragaman jenis musik memberikan hiburan tersendiri bagi para penikmatnya. Termasuk juga keanekaragaman genre atau aliran musik seperti Pop, Rock, Country, dsb. Tiap-tiap musisi selalu ingin mendapatkan tempat di hati para penikmat musik dan penggemarnya. Tak jarang kita temui karya-karya musik para musisi selalu mengikuti selera pasar yang ada.

Anak-anak kelahiran 90-an pasti tidak asing dengan lagu ”Libur Telah Tiba” dan “Anak Gembala” dari Tasya, atau lagu “Obok-obok” dari Joshua, dan masih banyak lagu-lagu lainnya dari penyanyi-penyanyi cilik lainnya seperti Trio Kwek Kwek, Chiquitta Meidy, Sherina atau juga dari tokoh boneka Susan.  Lagu-lagu mereka begitu booming di era 90-an dan tidak kalah dengan lagu-lagu dari penyayi dewasa. Lagu-lagu mereka sering diputar di radio-radio dan siaran televisi.



Namun yang jadi kegelisahan kita adalah, mereka para penyanyi cilik itu kini telah beranjak dewasa. Meskipun mereka masih berkarya di belantika musik Indonesia, mereka tidak lagi melantunkan lagu-lagu yang cocok bagi anak-anak usia dibawah 10 tahun. Ditambah lagi, anak-anak Indonesia di milenium 2000 ini tidak lagi mempunyai idola penyanyi cilik seperti Tasya, Joshua, dan Sherina ketika masih kecil dan melantunkan lagu anak-anak. Anak-anak sekarang lebih sering disuguhi lagu-lagu dari penyanyi dewasa yang bertemakan asmara dan percintaan yang melankolis. Sangat jauh sekali dibandingkan dengan lagu-lagu anak yang lebih bertemakan keceriaan khas anak-anak. Ditambah lagi di era ini masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan memperoleh informasi dari belahan dunia lainnya. Tak jarang kita jumpai di siaran televisi kita disuguhi musik-musik mancanegara. Lebih parahnya lagi, tidak ada satupun lagu mancanegara itu yang sesuai dan cocok dengan anak-anak usia dibawah 10 tahun.

Beberapa waktu lalu mungkin ada semacam harapan bagi anak Indonesia untuk mendapatkan hiburan dari penyanyi cilik Indonesia. Salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia menyelenggarakan ajang pencarian bakat yang kontestannya anak-anak. Namun ternyata harapan itu kosong. Seluruh kontestan dalam ajang pencarian bakat tersebut memang masih anak-anak, akan tetapi jenis-jenis lagu yang dibawakan bukanlah lagu anak Indonesia melainkan lagu-lagu karya penyayi dewasa yang sekali lagi kental dengan tema romansa percintaan yang melankolis.


=============================================================



Albert Bandura (1925) sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Sosial Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Ia seorang psikologi yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen “Bobo Doll” yang menunjukkan anak-anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Teori Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Bandura telah memberi penekanan tentang bagaimana perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan melalui penguatan (reinforcement) dan pembelajaran peniruan (observational learning), dan cara berfikir yang kita miliki terhadap sesuatu inforamasi, ialu kemudian bagaimana tingkah laku kita mempengaruhi lingkungan dan menghasilkan penguatan (reinforcement) dan peluang untuk diperhatikan oleh orang lain (observational opportunity).

Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar.

Tentu saja, mengamati orang lain melakukan sesuatu tidak tidak mesti berakibat belajar, karena belajar melalui observasi memerlukan beberapa faktor atau prakondisi. Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar meinlui observasi dapat terjadi, yakni:

1.       Perhatian (attention process) : Sebelum meniru orang lain, perhatian hams dicurahkan ke orang itu. Perhatian ini dipengaruhi oleh asosiasi pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkahlaku yang diamati bagi si pengamat.

2.       Representasi (representation process): Tingkahlaku yang akan ditiru, hams disimbolisasikan dalam ingatan. Baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk gambaran/imajinasi. Representasi verbal memungkinkan orang mengevaluasi secara verbal tingkahlaku yang diamati, dan menentukan mana yang dibuang dan mana yang akan dicoba dilakukan. Representasi imajinasi memungkinkan dapat dilakukannya latihan simbolik dalam fikiran, tanpa benar-benar melakukannya secara fisik.

3.       Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): Sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkanya ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Mengubah dad gambaran fikiran menjadi tingkahlaku menimbulkan kebutuha evaluasi; “Bagaimana melakukannya?” “Apa yang harus dikerjakan?” “Apakah sudah benar?” Berkaitan dengan kebenaran, basil belajar melalui observasi tidak dinilai berdasarkan kemiripan respon dengan tingkahlaku yang ditiru, tetapi lebih pada tujuan belajar dan efikasi dari pebelajar.

4.       Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): Belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pebelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkahlaku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, tidak bakal terjadi proses belajar. Imitasi lebih kuat terjadi pada tingkah laku model yang diganjar, daripada tingkah laku yang dihukum. Imitasi tetap terjadi walapun model tidak diganjar, sepanjang pengamat melihat model mendapat ciri-ciri positif yang menjadi tanda dari gaya hidup yang berhasil, sehingga diyakini model umumnya akan diganjar.

Dari teori pembelajaran sosial milik Albert Bandura dapat kita lihat perkembangan anak-anak pada era ini. Anak-anak lebih suka dan lebih hafal lagu-lagu karya penyanyi dewasa sebab mereka mendapatkan informasi itu dengan mudah melalui media televisi, radio, dan lain sebagainya. Frekuensi dan intensitas informasi yang didapatkan itu semakin memudahkan anak-anak untuk menyimpan informasi tersebut dalam kognitifnya. Ketika ia me-recall ingatan tersebut kemudian mereka melakukan imitasi atau peniruan.  Dan yang paling utama adalah adanya motivasi dan penguatan. Orang-orang disekitar termasuk orang tua terkesan justru membiarkan anak-anak mereka menirukan aksi panggung penyayi-penyayi dewasa idolanya. Para orang tua justru menganggap hal ini merupakan prestasi anaknya yang perlu dibanggakan. Akibatnya, anak-anak terus-menerus meniru dan berperilaku layaknya penyayi dewasa yang ia sukai.

Apakah hal itu buruk? Sebenarnya hal ini bukan masalah baik atau buruk, namun pantaskah seorang anak berperilaku layaknya seseorang yang 20 tahun lebih tua dari usianya? Alangkah baiknya jika kita sebagai orang tua mampu memilihkan dan memilah mana jenis-jenis lagu yang baik bagi anak-anak, dan mana tokoh-tokoh public figure yang boleh ia gemari dan mana yang tidak. Karena apa, pada masa anak-anak proses pembelajaran mereka sangat cepat, dan rasa ingin tahunya juga besar. Apa anda bisa bayangkan jika mereka mengenal lagu-lagu perselingkuhan kemudian putra-putri anda menanyakan “Apa itu selingkuh? Apa itu pacaran?”. Sudah pantaskah mereka mengetaui hal itu?


Semoga artikel ini dapat membantu kita semua untuk tumbuh kembang anak-anak Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bermoral. Dan tentunya kita juga berharap akan muncul penyanyi-penyanyi cilik baru yang akan membawa angin segar untuk belantika musik Indonesia, terutama musik untuk anak-anak yang syarat akan pesan moral, keceriaan, dan pembelajaran yang positif.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar